Abdullah Syafi'i

18-08-2017 Kategori : Tokoh Betawi
Name

Abdullah Syafi'i, lebih dikenal dengan nama Kiai Dulloh (lahir 10 Agustus 1910 di kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan - meninggal 3 September 1985 pada umur 75 tahun) adalah pendiri dan pengasuh pertama Perguruan as-Syafi'iyah di Jakarta.[1][2][3] Ia pernah menjabat sebagai ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode pertama dan Ketua Umum Majelis Ulama DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua.[4] Ia merupakan ayah dari Dra.Hj. Tuti Alawiyah, mantan Menteri Sosial dan Menteri Peranan Wanita pada masa Orde Baru sekaligus yang menjadi pengasuh Perguruan asy-Syafi'iyah saat ini.[1] Kiai Dulloh adalah ulama keturunan Betawi yang terkenal dengan julukan "Macan Betawi Kharismatik."[5] Ia juga dikenal sebagai ulama yang ahli ilmu agama dan mempunyai pandangan luas yang mengacu pada masa depan.[1] Menurut Prof. K.H. Ali Yafie mengatakan bahwa "K.H. Abdullah Syafi’i adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tak jemu dalam berdakwah.[6] Dia sangat tegas dalam menegakkan Amar ma'ruf nahi munkar."[6]

K.H. Abdullah Syafi'i adalah anak pertama dari pasangan dari K.H Syafi'i bin Haji Sairan dan Nona binti Sya‘ari.[1][3][7] Ia memiliki dua adik perempuan yang bernama Ruqoyyah dan Aminah.[7] Sejak kanak-kanak ia belajar pendidikan keislaman dari ayahnya dan lingkungan keluarganya.[1] Di samping itu ia juga belajar pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) selama tahun.[7] Ia juga belajar kepada ulama-ulama di kampungnya dan disusul dengan belajar kepada ulama-ulama lain di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.[1] di antara guru-guru Kiai Dulloh adalah Mualim Mushonif, Abdul Majid, Marzuki, Mansur, Habib Ali bin Husein Al-Attas, Habib Alwi Al-Haddad, Habib Salim bin Jindan, Habib Ali Kwitang, dan KH. Ahmad Mukhtar yang kemudian menjadi mertuanya.[1][7] Pada umur 17 tahun, Kiai Dulloh sudah berani mendirikan Madrasah Diniyah (Sekolah Agama Islam) di tanah milik orang tuanya di Bali Matraman dan mengajar di sana.[1] Bermula dari Madrasah Diniyah inilah Kiai Dulloh mengembangkan dakwah keislamannya di bidang pendidikan untuk masa-masa sesudahnya.[1]

Kiai Dulloh menikahi Siti Roqayah, puteri K.H. Ahmad Mukhtar dan dikarunia lima orang anak, yakni: Muhibbah, Tuty Alawiyah, Abdur Rasyid, Abdul Hakim, dan Ida Farida.[7] Pada tahun 1933, Kiai Dulloh didampingi istrinya mulai mendirikan masjid di samping madrasahnya.[1] Masjid ini ia beri nama al-Barkah, yang kemudian masjid ini mampu berkembang dan menjadi pusat keislaman hingga saat ini.[1][8]