Guru Hadi

22-09-2017 Kategori : Tokoh Betawi
Guru Hadi



Nama : Abdul Hadi, KH
Tempat dan Tanggal Lahir : Manggarai, 1909
Pendidikan Terakhir : -
Pekerjaan Terakhir : Ulama
Alamat : -

Deskripsi

Guru Hadi atau Abdul Hadi bin KH Ismail,dilahirkan pada tahun 1909 M di Gang Kelor, Kelurahan Jawa, Manggarai, Jakarta Selatan. Guru Hadi masih keturunan ke 10 Sultan Maulana Hasanudin Banten dan kakak ipar dari KH. Mucthar Tabrani Kaliabang, Nangka, Bekasi.

Ketika berusia enam tahun, Abdul Hadi belajar mengaji kepada Tamam dan Ali di Pisangan Baru. Kemudian pada usia 10 tahun Hadi belajar pada Guru Mustaqiem Rawa Bangke (Rawa Bunga) untuk memperdalam ilmu nahwu, sharaf dan tauhid. Hadi juga belajar fiqih, 'arudh (sajak Bahasa Arab), dan mantiq (logika) kepada Guru Marzuqi di Cipinang Muara Setelah Guru Marzuqi wafat ia belajar kepada menantunya, Guru Muhammad Thohir bin Ja'man Cipinang Muara.

Abdul Hadi juga belajar fiqih dan balaghah kepada Guru Mahmud Menteng dan mengaji kitab Shahih Bukhori dan Ihya Ulumuddin kepada Gum Abdul Majid Pekojan. Perjalanan menunrut ilmu tauhid dan fiqih masih berlanjut ke pada Mu' allim Shodri Pisangan Baru sedangkan dalam ilmu tafsir dan faraidh (waris) Hadi belajar kepada Kiai Humaidi bin Sholeh Cirebon. Ia juga belajar kepada Guru Thohir Legok (Otista) dan Guru Muhammad Zen di KampungnMelayu . Di samping kepada ulama-ulama tersebut, Abdul Hadi juga belajar kepada Habib Ali Kwitang, Habib Ali bin Husein Alatas Bungur, Habib Zen bin Abdullah Assolabiyyah Alaydrus, Habib Abdullah bin Salim Alatas Kebon Nanas, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan Otista, Habib Muhammad bin Ahmad Al Hadad Kramat Jati dan Habib Syaikh bin Salim Alatas Sukabumi.

Pada 5 Juli 1935 M, Hadi menikah dengan Siti Rodiyah, putri Guru Zayadi Rawa Bangke dan dikaruniai enam anak, saputra dan lima putri.

Pada saat pergi haji di tahun 1960-an, Guru Hadi sempat belajar kepada Habib Hasan bin Muhammad Fad'ak, Syaikh Yasin Al Fadani dan Syaikh Zen Bawiyah. Dalam usia lanjut, Guru Hadi masih menuntut ilmu kepada Habib Abdullah bin Husein Syami Alatas Batu Ceper dan Habib Abdurrahman bin Ahmad bin Abdul Qadir As-Segaf Bukit Duri .

Bekal ilmu yang Guru Hadi peroleh dari para Ulama Betawi dan Habib ia gunakan untuk berdakwah di mushola, masjid dan majelis taklim yang tersebar di Jakarta. Guru Hadi juga mendirikan Pesantren Putri Al-Istiqomah pada tahun 1949 yang saat itu berada di lapangan bola Bea Cukai kernudian pada 1968 pindah ke Jalan Gading Raya. Gutu Hadi juga membangun Masjid AI-Akhyar pada tahun 1951 serta membuat karya tulis berjudul Tukilan setebal 24 halaman. Buku itu berisi tentang tauhid yang ditulis dengan Bahasa Arab Melayu (Pegon-Indonesia) pada 8 Rabiul Tsani 1373 H. Di kalangan para murid-muridnya, Guru Hadi dikenal memiliki tiga sifat mulia, yaitu cinta ilmu, merendah kepada setiap orang khususnya kepada keturunan Nabi Muhammad SAW dan istiqomah dijalan dakwah.

Guru Hadi wafat pada 1418 H atau 03 Oktober 1998 M dan dimakamkan di depan Masjid AI-Akhyar, tepatnya di depan aula Madrasah Istiqomah, jalan Gading Raya I Rawamangun Jakarta Timur.@ans_Jg